Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 24 Oktober 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 Tujuan Pembelajaran Khusus:

  • CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
  • CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Assalamu’alaykum, saya GALIH HANA SATYA NUGRAHA CGP angkatan 11 Kab. Madiun. Pendidikan guru penggerak sudah banyak mengubah mindset saya sebagai guru, banyak hal yang sudah saya pelajari dan saya dapatkan. Selama menjadi CGP A11 ini saya didampingi oleh Ibu Niniek Widiarochmawati selaku Fasilitator dan Ibu Hetik Suprihatin selaku pengajar praktik. Dalam Pendidikan guru penggerak ini, saya tergabung di kelas 249A
Kab. Madiun
.

Sebelum saya menjelaskan rangkuman materi pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, marilah kita renungkan kutipan berikut ini:

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang barharga/utama adalah yang terbaik”
(Bob Talbert)

Kutipan Bob Talbert, “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” menggarisbawahi pentingnya mengarahkan pendidikan tidak hanya pada aspek teknis seperti keterampilan menghitung, tetapi juga pada pemahaman nilai-nilai dan prinsip kebajikan universal yang lebih dalam. Pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan kognitif. Tetapi pendidikan  yang mengajarkan Pendidikan karakter seperti adab sopan santun (karakter), integritas, kejujuran, keadilan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Pendidikan yang berkarakter akan menghasilkan produk dan sumber manusia yang mulia dan beradab.

Pada modul 3.1 ini kita belajar bagaimana mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin pembelajaran, pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal sangat dibutuhkan oleh seorang guru atau kepala sekolah.

“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis”
(Georg Wilhelm Friedrich Hegel)

Dari kutipan diatas, Pendidikan merupakan proses menuntun penguatan karakter dan nilai-nilai kebajikan universal yang diterima di seluruh dunia. Pendidikan karakter sangat penting apalagi di zaman yang sudah modern seperti ini. Penguatan nilai karakter sangat dibutuhkan generasi sekarang untuk mencetak generasi pintar tidak hanya di bidang intelektual saja tetapi juga mempunyai akhlak dan adab yang tinggi.

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pendidikan Indonesia. Filosofinya, yang dikenal dengan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani," menekankan tiga prinsip utama:

  1. Ing Ngarsa Sung Tuladha: Seorang pemimpin harus memberi contoh yang baik.
  2. Ing Madya Mangun Karsa: Seorang pemimpin harus bisa memotivasi dan menginspirasi di tengah-tengah kelompoknya.
  3. Tut Wuri Handayani: Seorang pemimpin harus memberikan dorongan dan dukungan dari belakang, mendorong dan membiarkan yang dipimpin berkembang secara mandiri.

Dalam konteks pengambilan keputusan, filosofi ini mengajarkan bahwa pemimpin harus memimpin dengan memberikan contoh yang baik, mendorong kreativitas dan partisipasi dari bawah, serta memberikan dukungan dan bimbingan yang diperlukan untuk memungkinkan anggota tim berkembang dan mengambil inisiatif sendiri.

Sedangkan Pratap Triloka merupakan pemikiran tentang keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan. Dalam konteks pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin, filosofi Ki Hajar Dewantara dan Pratap Triloka dapat saling melengkapi:

  1. Keseimbangan dan Harmoni: Pratap Triloka mengajarkan pentingnya keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan dan pemahaman mendalam. Seorang pemimpin yang mengintegrasikan prinsip ini akan mengambil keputusan yang mempertimbangkan berbagai dimensi dan dampak dari keputusan tersebut, serta keseimbangan antara kebutuhan individu dan kelompok.
  2. Contoh dan Inspirasi: Filosofi Ki Hajar Dewantara menggarisbawahi pentingnya memberi contoh dan inspirasi. Pemimpin yang memahami filosofi ini akan tahu bahwa keputusan mereka harus mencerminkan nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan dan bahwa keputusan tersebut harus menginspirasi orang lain untuk berperilaku dan bekerja dengan cara yang diharapkan.
  3. Dukungan dan Dorongan: Seperti prinsip Tut Wuri Handayani, seorang pemimpin yang baik harus memberikan dukungan dan dorongan, memungkinkan orang lain untuk berkembang dan berkontribusi secara efektif. Filosofi Pratap Triloka mendukung ini dengan menekankan pentingnya harmoni dan integrasi dalam seluruh sistem, yang membantu dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan inovasi.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai bagi seorang guru penggerak adalah berpihak kepada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif. Nilai-nilai tersebut harus ada dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai tersebut sebagai cerminan dari arah keputusan yang akan kita ambil. Seperti tujuan pengambilan harus berpihak pada murid, mandiri bagaimana kita sebagai guru merespon suatu konflik dan permasalahan yang ada, kemudian adanya kerja sama dan kolaborasi tim di dalam penyelesaian masalah, pengambilan keputusan yang selalu dievaluasi dan direfleksikan untuk perbaikan ke depannya, serta penanganan masalah dengan cara kreatif dan praktis. Selain itu, pengambilan keputusan ini juga harus berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang lain seperti keadilan dan bertanggung jawab.

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Coaching bertujuan untuk membantu individu atau kelompok dalam proses pengambilan keputusan dengan cara yang lebih terstruktur dan reflektif. Dalam sesi coaching, pendamping atau fasilitator akan:

  • Membantu Mengidentifikasi Tujuan: Mengarahkan klien untuk memahami tujuan mereka dengan lebih jelas, yang akan membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih terfokus.
  • Menyediakan Perspektif Baru: Mengajukan pertanyaan yang mendorong klien untuk melihat situasi dari berbagai sudut pandang, sehingga keputusan yang diambil lebih informatif.
  • Memfasilitasi Refleksi: Membantu klien untuk merefleksikan keputusan yang telah diambil, termasuk mengevaluasi hasil dan proses pengambilan keputusan tersebut.

Coaching dengan TIRTA dapat membantu guru dan pendidik untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, sehingga dapat membantu klien untuk menyelesaikan masalahnya dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot. Model alur TIRTA sangat berkaitan dengan 9 langkah pengambilan keputusan. Secara keseluruhan, coaching memberikan kita dukungan dalam proses pengambilan keputusan dengan memfasilitasi refleksi, evaluasi, dan pengembangan keterampilan. Ini memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih efektif serta menghadapi tantangan dengan lebih percaya diri.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Pengelolaan dan kesadaran aspek sosial-emosional memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan, terutama ketika menghadapi dilema etika. Guru yang mampu mengelola emosi mereka (kesadaran diri), manajemen diri, kesadaran sosial dengan rasa empati yang tinggi terhadap orang lain, tetap menjaga hubungan komunikasi baik dengan orang yang terlibat dan tetap konsisten dengan nilai-nilai etika mereka, akan membuat keputusan yang bertanggung jawab, lebih adil, rasional, dan berdampak positif bagi lingkungan pendidikan.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada dilema etika danbujukan moral sangat bergantung pada nilai-nilai yang dianut pendidik. Sehingga pendidik atau guru harus memiliki nilai-nilai kebajikan universal, seperti: kebenaran, keadilan, kejujuran, integritas, tanggung jawab, empati, kemanusiaan dsb. Dengan merujuk pada nilai-nilai kebajikan universal dan profesional, pendidik dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya adil dan etis tetapi juga konsisten dengan prinsip-prinsip yang mereka anggap penting. Pendekatan berbasis nilai ini membantu dalam membuat keputusan yang lebih informatif, reflektif, dan bertanggung jawab, sambil memastikan bahwa keputusan tersebut mendukung kesejahteraan semua pihak yang terlibat.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang tepat memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Dengan memastikan keadilan, membangun kepercayaan, meningkatkan kesejahteraan, dan mendukung partisipasi serta keterlibatan, keputusan yang bijaksana dan etis dapat secara signifikan mempengaruhi kualitas dan atmosfer lingkungan, baik di tempat kerja, sekolah, maupun dalam komunitas.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan dalam pengambilan keputusan terkait dilema etika sering kali terkait dengan konflik nilai, tekanan eksternal, keterbatasan informasi, kompleksitas situasi, perbedaan perspektif, dan kepatuhan terhadap regulasi. Empat paradigma dilema etika yang sering berkaitan dengan lingkungan sekolah adalah:

  1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Menyadari dan mengatasi tantangan ini secara proaktif dapat membantu kita dan sekolah membuat keputusan yang lebih baik dan lebih etis dalam lingkungan yang terus berubah.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengambilan keputusan dalam pengajaran mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemerdekaan murid dalam proses pembelajaran. Seorang guru atau pendidik harus memahami kebutuhan dan potensi murid, menetapkan tujuan pembelajaran yang relevan, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan pendekatan sosial emosional. Pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid. Memilih metode pengajaran yang tepat untuk berbagai potensi murid dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung pembelajaran. Dengan keputusan yang baik, pendidik dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang memberdayakan murid untuk mencapai potensi optimal mereka.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran mempengaruhi berbagai aspek pengalaman pendidikan murid. Keputusan yang bijaksana dan berorientasi pada kebutuhan murid dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, adil, dan berkualitas tinggi, yang pada gilirannya mempersiapkan murid untuk masa depan yang sukses. Dengan memprioritaskan perkembangan holistik, keterlibatan keluarga, dan perbaikan berkelanjutan, pemimpin pembelajaran dapat memberikan dampak positif yang mendalam pada kehidupan dan masa depan murid-murid mereka.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Secara keseluruhan, modul 3.1 ini menggarisbawahi hubungan erat antara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi pada modul-modul sebelumnya. Prinsip dan paradigma dilema etika dalam pengambilan keputusan hendaknya harus berdasarkan dengan nilai-nilai kebajikan universal, bertanggung jawab dan berpihak kepada murid. Semua dasar pengambilan keputusan tersebut terdapat dalam modul sebelumnya, yaitu filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, dan budaya positif. Seorang guru harus memenuhi kebutuhan belajar muridnya dengan pembelajaran berdiferensiasi. Keterkaitan antara modul-modul ini menunjukkan bahwa keputusan yang bijaksana dan berbasis nilai-nilai kebajikan universal mempengaruhi kualitas pembelajaran dan hasil pendidikan murid secara menyeluruh. Integrasi aspek-aspek ini dalam praktik sehari-hari mendukung pembelajaran yang memberdayakan murid dan mempersiapkan mereka untuk masa depan dengan lebih baik.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

A. Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sementara itu, bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.

B. Empat paradigma pengambilan keputusan

  1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

 C. Tiga prinsip pengambilan keputusan

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

 D. Sembilan langkah pengambilan keputusan

  1. Mengenali nilai yang bertentangan
  2. Menentukan pihak yang terlibat
  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi
  4. Pengujian benar atau salah
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi opsi trilema
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.

Hal-hal di luar dugaan saya adalah dalam mengambil keputusan sebagai guru atau pendidik kita diharuskan untuk memahami lebih dalam tentang masalah atau kasus dari perspektif yang berbeda. Karena dalam dilema etika terdapat nilai-nilai yang sama-sama benar tetapi saling bertentangan, dan dalam kasus bujukan moral terdapat nilai benar vs salah.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, tetapi yang saya lakukan tidak selengkap dengan apa yang saya pelajari dari modul 3.1 ini. Sebelumnya, dalam pengambilan keputusan saya hanya berpikir satu dua kali secara matang dan dampak yang akan ditimbulkan setelah mengambil keputusan tersebut. Setelah mempelajari modul 3.1, sebelum pengambilan keputusan ternyata seorang pendidik harus mengetahui paradigma dan prinsip dilema etika, serta melalui tahapan pengujian pengambilan keputusan.

Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya dapatkan setelah mempelajari modul 3.1 ini adalah pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika dan bujukan moral lebih bijaksana dan reflektif, dengan pertimbangan yang mendalam tentang etika, prinsip, dan proses pengambilan keputusan. Adanya peningkatan kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi keputusan dengan cara yang lebih kritis dan sistematis. Kemudian dalam konteks kepemimpinan atau manajemen, pemahaman ini membantu saya dalam membuat keputusan yang lebih adil, bijaksana, efektif dan bertanggung jawab sehingga meminimalisir dampak negatif yang dapat merugikan orang lain akibat keputusan yang sudah saya buat.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut saya modul 3.1 ini sangat penting karena memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan yang adil, bijaksana, etis, efektif, dan bertanggung jawab baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Sebagai individu, topik modul 3.1 ini membantu saya dalam membuat keputusan yang lebih bijaksana dan konsisten dengan nilai-nilai kebajikan universal yang saya yakini. Sebagai pemimpin, topik modul 3.1 ini meningkatkan kemampuan saya untuk memimpin dengan adil dan efektif, serta dapat meciptakan lingkungan kerja yang positif. Keterampilan dan pemahaman yang diperoleh dari modul ini tidak hanya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan tetapi juga memperkuat integritas dan kredibilitas saya sebagai pendidik.

Read more...
separador

Senin, 07 Januari 2013

PPT PTK

<iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/15887444" width="476" height="400" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
Read more...
separador

Minggu, 06 Januari 2013

Penelitian Tindakan Kelas

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELAKUKAN OPERASI PERKALIAN DAN PEMBAGIAN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL DAKON PADA SISWA KELAS IV SDN GENENGAN 2 KAWEDANAN



Oleh
GALIH HANA SATYA NUGRAHA
PGSD VII C
NPM 09141088



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
                                                 2013                              
BAB 1
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berfikir yang memfokuskan pada proses pemecahan masalah. Untuk mengembangkan cara berfikir tersebut diperlukan profesionalitas guru dalam pembelajaran. Namun kenyataannya masih banyak guru yang kurang memadai pengetahuan tentang model-model pembelajaran, kurangnya keterampilan dalam pembelajaran, kurangnya kreatifitas dan inovasi dalam implementasi pembelajaran. Sehingga yang terjadi adalah siswa tetap pada paradigma bahwa matematika itu membosankan dan menakutkan.

Berdasarkan refleksi di SDN Genengan 2 Kabupaten Magetan dengan kompetensi dasar “melakukan operasi perkalian dan pembagian” menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan selama ini belum mencapai hasil yang maksimal. Hasil prestasi peserta didik masih dibawah tingkat ketuntasan belajar (KKM). Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, antara lain metode yang digunakan dalam materi pembelajaran tersebut kurang sesuai, motivasi guru terhadap belajar siswa masih kurang, masih kurangnya buku-buku matematika di sekolah, pemanfaatan media/alat peraga yang belum maksimal, sehingga membuat rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. Di sisi lain perhatian orang tua terhadap anak dalam belajar dirumah juga masih kurang.
Berdasarkan ketidakberhasilan pembelajaran matematika tersebut, maka peneliti berpendapat bahwa kekurangmampuan peserta didik dalam memahami konsep perkalian dan pembagian dapat diantisipasi melalui pembelajaran matematika dengan permainan tradisional “DAKON”. Hal tersebut peneliti terapkan dengan alasan bahwa untuk memahami konsep perkalian dan pembagian, maka peserta didik harus memahami penjumlahan dan pengurangan, karena perkalian merupakan penjumlahan berulang, sedangkan pembagian adalah pengurangan berulang. Oleh karena itu, pembelajaran matematika tentang operasi perkalian dan pembagian dengan menerapkan suatu permainan tradisional Dakon akan lebih menarik perhatian peserta didik, karena peserta didik akan mengikuti pembelajaran dengan aktif, menantang, sesuai tahap perkembangan anak, serta kontekstual, yaitu dengan memanfaatkan benda-benda konkret yang dapat diperoleh dengan mudah dilingkungan sekitar, serta menyenangkan. 

B.  Identifikasi Masalah        
Hasil pengamatan yang dilakukan dalam pembelajaran Matematika  di kelas IV SDN Genengan 2 menunjukkan  bahwa :
1.      Pembelajaran masih berpusat pada guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
2.      Kurangnya motivasi guru terhadap siswa.
3.      Media pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi sehingga pembelajaran terkesan sangat monoton.
4.      Kurangnya buku-buku matematika yang tersedia.
Dari identifikasi masalah-masalah diatas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas dan hasil belajar masih rendah. Hal ini disebabkan media pembelajaran kurang menarik.

C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan sebagai berikut:
1.        Bagaimanakah penerapan permainan tradisional Dakon dalam pembelajaran matematika?
2.        Apakah terjadi peningkatan kemampuan melakukan operasi perkalian dan pembagian yang signifikan melalui penerapan permainan tradisional Dakon?

D.  Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan:
a.         Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan melakukan operasi perkalian dan pembagian melalui permainan tradisional Dakon.
b.        Tujuan Khusus
a.       Mendeskripsikan penerapan penerapan permainan tradisional Dakon dalam pembelajaran matematika
b.      Mengetahui peningkatan kemampuan peserta didik dalam melakukan operasi perkalian dan pembagian melalui permainan tradisional Dakon.

E.  Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1.        Manfaat teoritis
Hasil penelitian secara teoritis diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan masalah peningkatan kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian melalui permainan tradisional Dakon dalam pembelajaran matematika.
2.        Manfaat praktis
Penelitian ini memiliki manfaat praktis bagi:
a.       Bagi peneliti
Dapat memberikan sumbangan pemikiran berupa metode dan langkah-langkah perbaikan pembelajaran melalui penerapan permainan tradisional Dakon dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam operasi perkalian dan pembagian.
b.      Bagi siswa
Dapat digunakan sebagai motivasi belajar agar prestasi belajar matematika dapat lebih meningkat.
c.       Bagi sekolah
Sekolah dapat meningkatkan mutu dan prestasi siswa dalam pembelajaran matematika.
d.      Bagi guru
1). Dapat memotivasi guru dalam mengelola pembelajaran dengan memperhatikan kemampuan awal siswa.
2). Dapat memberikan alternatif pada guru dalam memilih metode pembelajaran sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran matematika.
3).  Dapat memberikan wawasan kepada guru dalam menanamkan konsep matematika.
 
BAB II
KAJIAN TEORI

A.  Kajian Teori
1.        Pengertian Peningkatan
Kata peningkatan atau meningkatkan merupakan kegiatan peneliti membangun atau mengusahakan tercapainya suatu kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya. Peneliti berupaya meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan perkalian dan pembagian melalui permainan tradisional Dakon. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini, peneliti mengadakan kegiatan pembelajaran dengan disertai pemberian bimbingan secara langsung terhadap peserta didik, dalam bentuk petunjuk, nasehat, ajakan, perintah, pemberian contoh atau latihan, agar peserta didik benar-benar belajar sehingga tercapai hasil belajar yang optimal.

2.        Pengertian Kemampuan
Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa, sanggup melakukan sesuatu. Kemampuan berarti menguasai, dalam kaitan ini kemampuan dapat diartikan adanya tingkat penguasaan baik yang bersifat pengetahuan, pemahaman, maupun keterampilan dalam melakukan operasi perkalian dan pembagian.

3.        Pengertian Belajar
Belajar merupakan adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000;143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responnya menjadi menurun. Sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru (Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia belajar diartikan berusaha (berlatih, dsb) supaya mendapat suatu kepandaian.
Menurut Slameto (1991:22) “Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan menurut Winkel (1984:162) mengutarakan pengertian belajar suatu proses mental yang mengarah kepada penguasaan, kecakapan/skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehinnga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif.
Dari pengertian belajar tersebut di atas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa, belajar adalah usaha secara fisik dan mental dengan cara mengetahui dan memahami apa yang diperoleh kemudian dilaksanakan, sehingga tercipta suatu tingkah laku menuju perkembangan secara utuh. Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan oleh guru agar mampu menguasai apa yang telah diterimanya dalam hal ini adalah belajar perkalian dan pembagian bilangan.

4.        Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Selanjutnya dijelaskan bahwa salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi pembelajaran matematika, yang sesuai dengan (1) topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual peserta didik, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan aktif peserta didik, (5) keterkaitan dengan kehidupan peserta didik, (6) pengembangan dan pemahaman penalaran matematika. Beberapa strategi pembelajaran matematika yang kontruktivistik dan dianggap sesuai, antara lain; (1) problem solving, (2) problem posing, (3) open-ended problem, (4) mathematical investigation, (5) guided discovery, (6) contextual learning, (7) cooperative learning. Pembelajaran matematika di sekolah dasar berfungsi mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika di SD dapat bermanfaat untuk membentuk pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis dengan penuh kecermatan.

5.        Permainan Tradisional Dakon
Dakon adalah permainan tradisional yang diambil dari bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia disebut permainan congkak atau congklak. Congkak adalah lokan yang dipakai untuk permainan, ada bermacam-macam seperti baiduri, putih, dsb ; permainan dengan kulit lokan (biji-bijian dsb) dan kayu yang bentuknya seperti perahu yang berlubang-lubang (di jawa disebut dakon).
Permainan congkak/congklak merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang biasanya perempuan. Alat yang digunakan terbuat dari kayu atau plastik berbentuk mirip perahu dengan panjang sekitar 75 cm dan lebar 15 cm. Pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Diantara keduanya terdapat lubang yang lebih kecil dari induknya berdiameter kira-kira 5 cm. Setiap deret berjumlah 7 buah lubang. Pada setiap lubang tersebut diisi dengan kerang atau biji-bijian sebanyak 7 buah.
Dalam peembelajaran matematika materi perkalian dan pembagian dengan permainan dakon/congkak/congklak ini, tidak menggunakan aturan baku dalam permainan dakon, tetapi aturan dimodifikasi dan disesuaikan kebutuhan untuk tujuan mencapai kompetensi peserta didik tentang melakukan operasi perkalian dan pembagian, sebagai berikut:
1.      Permainan dilakukan oleh dua orang peserta didik (kelompok berpasangan)
2.      Masing-masing kelompok mengambil lokan berupa biji-bijian atau kerikil, kelereng, kulit kerang dan lain-lain sebanyak 100-150 butir
3.      Dalam permainan ini, anggota kelompok bekerja sama dan berkompetisi. Satu anggota kelompok memegang dan memainkan, sedangkan satu anggota lainnya memberi soal, menulis jawaban, dan menilai temannya yang sedang bermain.

B.  Kerangka Berpikir
Pada umumnya setiap kelas terdiri dari beberapa siswa yang  kemampuan daya serap, latar belakang dan pengalaman yang berbeda.  Dalam proses pembelajaran guru hendaknya menggunakan media yang tepat sehingga siswa menumbuhkan minat belajar dan membuat pembelajaran menjadi lebih inovatif.
Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat ditingkatkan untuk menunjang keberhasilan suatu program pengajaran. Potensi yang ada disekolah, yaitu semua sumber daya yang dapat mempengaruhi hasil dari proses pembelajaran misalnya guru, siswa, dan fasilitas yang ada.
Keberhasilan suatu program pengajaran tidak hanya disebabkan oleh guru saja tetapi perlu adanya pendukung seperti buku-buku, media pembelajaran atau bahkan pembelajaran yang melibatkan permainan. Dalam hal ini penerapan permainan Dakon dapat meningkatkan kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian pada kelas IV SDN Genengan 2, Kawedanan.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.  Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan terhitung mulai bulan Februari hingga bulan Juni tahun 2012. Tempat penelitian ini dilakukan di SDN Genengan Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan. Alasan penulis memilih sekolah ini karena :
1.      Di tempat penelitian tersebut terdapat masalah  yang mencerminkan karakteristik masalah yang akan diteliti.
2.      Sejauh ini belum ada penelitian serupa yang dilakukan di tempat penelitian tersebut, sehingga hasil penelitian ini akan mengungkap sesuatu yang baru.

B.  Subyek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Genengan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, semester 1, tahun pelajaran 2012/2013. Dengan jumlah siswa sebanyak 30 siswa. Terdiri dari 13 siswa perempuan dan 17 siswa laki-laki.
 
C.  Prosedur Penelitian
1.         Rancangan Penelitian
            Wina Sanjaya, (2009:26) mengemukakan bahwa penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas   “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut”.
            Suharsimi Arikunto, (2006:16) mengemukakan bahwa  dalam penelitian tindakan kelas terdapat empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan,  dan refleksi.
            Rochiati Wiriaatmadja, (2009:13) mengemukakan bahwa penelitain tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pemeblajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri.








Gb 3.1 Model tahapan penelitian tindakan kelas
Perencanaan
                       
SIKLUS I
Perncanaan
Pengamatan
Pelaksanaan
Refleksi
?
Refleksi
Pelaksanaan
SIKLUS II
Pengamatan
 







        


Agar lebih jelas penulis maka harus diperhatikan hal – hal berikut ini:
a.         Tahap perencanaa (planning)
Menurut Suharsimi Arikunto, (2006: 17) Dalam tahap ini dijelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. PTK dilakukan secara berpasangan atau kolaborasi. Pihak pertama melakukan tindakan dan pihak kedua yang mengamati proses jalannya tindakan.

b.        Tahap pelaksanaan (acting)
Menurut Supardi, (2006:99) Tahap pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan. Selama melaksanakan tindakan, guru sebagai pelaksana tindakan harus mengacu pada program yang telah dipersiapkan dan disepakati.
c.         Tahap pengamatan (observing)
       Menurut Suharsimi Arikunto, (2006:19) Tahap pengamatan berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan tindakan. Kegiatan pengamatan dilakukan oleh pengamat atau observer
d.        Refleksi (reflecting )   
Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan

SIKLUS I
1.    Tahap Perencanaan (planning)
Tahap perencanaan (planning) meliputi sebagai berikut :
a.       Melakukan observasi ke sekolah yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian.
b.      Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas.
c.       Menentukan pokok bahasan.
d.      Menyusun silabus dan RPP.
e.       Mempersiapkan instrumen untuk menganalisis data seperti : soal – soal matematika, pedoman penilain, format penilaian.
2.    Tahap Pelaksanaan (actuating)
a.         Kegiatan awal
1).   Guru membuka pelajaran (memberi salam dan presensi)
2).   Guru memberikan apersepsi (melakukan tanya jawab berkaitan dengan materi yang akan diajarkan)
b.    Kegiatan inti
1).   Guru menyiapkan peralatan permainan dakon
2).   Guru membentuk kelompok belajar berpasangan dengan tugas; (a) sebagai pemain, dan (b) sebagai penyampai soal dan penilai.
3).   Guru menjelaskan aturan permainan kepada peserta didik
4).   Permainan selesai setelah kedua anggota kelompok berpasangan melakukan permainan secara bergantian dan masing-masing telah memperoleh nilai.
5).   Pemenang dari permainan dakon, adalah pemain yang memperoleh nilai lebih tinggi
6).   Pemenang kelompok yang satu akan dipertemukan dengan pemenang kelompok yang lain
7).   Guru menyimpulkan materi yang sudah dibahas.
8).   Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang dapat mendapat point yang baik.
c.    Kegiatan akhir
1).   Guru memberikan pesan moral
2).   Guru menutup pelajaran (salam)
3.    Tahap Pengamatan (observing)
Observasi dilakukan secara kolaboratif antara pihak I (peneliti) dan pihak II (guru). Pada tahap ini, pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan disertai pencatatan secara teratur terhadap obyek yang diteliti. Data yang diamati adalah pencapaian prestasi siswa.

4.    Refleksi
Dalam tahap ini peneliti menganalisa hasil pengamatan yang diperoleh untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya apabila ditemukan kelemahan maupun temuan-temuan lain yang menyebabkan kesulitan pada siklus yang bersangkutan.

SIKLUS II
Tahapan dalam siklus II pada prinsipnya sama dengan tahapan dalam siklus I yang meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan, dan refleksi. Tindakan pada siklus II akan mengalami beberapa perubahan, didasarkan atas analisis perubahan dan analisis refleksi pada siklus I. Perubahan yang dilakukan pada siklus II ini dilakukan dengan harapan agar terjadi peningkatan prestasi siswa dan kreativitas.

D.  Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang valid, diperlukan suatu metode atau alat pengumpulan data yang tepat. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan ketepatan penggunaan. Pengumpulan data sangat ditentukan oleh jenis data pada penelitian yang akan dikumpulkan. Dalam penelitian ini dilalukan beberapa macam teknik pengumpulan data:
a.         Tes
Muchtar Buchori (dalam Ibadullah Malawi, 2009:11) tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau tidaknya.
            Test merupakan serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan dan bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data kognitif yaitu melalui tes secara individu.
b.    Observasi
Menurut Tatag Yuli Eko Siswono (2008: 25) observasi merupakan segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan itu berlangsung dengan atau tanpa alat bantu.
Dalam penelitian ini dilakukan observasi terhadap siswa untuk memperoleh data peningkatan prestasi belajar siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar observasi berbentuk cheklist.



E. Analisis Data
Data yang sudah terkumpul selama penelitian, selanjutnya  dianalisis sebagai berikut:
a.         Tes
Tes digunakan untuk memperoleh data kognitif berupa data prestasi belajar siswa. Tes diberikan dalam bentuk soal. Ketuntasan belajar siswa diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
Menurut Suharsimi Arikunto ( dalam Ike Retnawati, 2010 : 18)
Nilai = ∑skor yang diperoleh x 100%
    ∑ skor maksimal
            Siswa dinyatakan tuntas belajar apabila memperoleh nilai ≥ 70 sesuai dengan Standart Ketuntasan Belajar di SDN Petungrejo
Ketuntasan belajar siswa secara klasikal dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Ketuntasan klasikal = ∑siswa yang tuntas belajar x 100 %
        ∑ seluruh siswa

Indikator ketuntasan belajar siswa secara klasikal apabila 70% dari seluruh jumlah siswa dinyatakan tuntas belajar.
b.        Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data psikomotor dan afektif, yaitu data mengenai unjuk kerja siswa dalam kegiatan kelompok dan sikap siswa. Lembar observasi berbentuk checklist, data unjuk kerja siswa dihitung dengan rumus:
Menurut Suharsimi Arikunto ( dalam Ike Retnawati, 2010 : 23)
Nilai unjuk kerja siswa = ∑skor yang diperoleh x 100%
         ∑ skor maksimal
Kriteria pencapaian:
81%-100%                  : sangat aktif
61%-80%                    : Aktif
41%-61%                    : cukup aktif
21%-40%                    :  kurang aktif
Sedangkan untuk Meningkatnya kreativitas siswa dalam pembelajaran Matematika yang dilihat adalah dalam membuat sebuah catatan selama proses pembelajaran berlangsung dan dalam mengerjakan tugas kelompok. Cara menghitung nilai keaktifan siswa berdasarkan lembar observasi untuk tiap pertemuan adalah sebagai berikut :
Menurut Suharsimi Arikunto ( dalam Ike Retnawati, 2010 : 90)
Nilai = ∑skor yang diperoleh x 100%
   ∑ skor maksimal
Kriteria pencapaian:
 81%-100%            = sangat baik
61%-80%                    = baik
41%-61%                    = cukup baik
21%-40%                    = kurang baik
F. Jadwal penelitian
Tabel 3.1 Rincian Jadwal Penelitian
No.
Jenis Kegiatan
Bulan
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Minggu ke-
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.
Pengajuan judul




















2.
Pengajuan proposal




















3.
Mengurus surat ijin dari fakultas




















4.
Penyerahan surat ijin ke sekolah




















5.
Mengatur jadwal penelitian




















6.
Siklus 1
a.Perencanaan
b.Pelaksanaan
c.Pengamatan
d.Refleksi




















7.
Siklus II
a.Perencanaan
b.Pelaksanaan
c.Pengamatan
d.Refleksi





















8.
Pengolahan data




















9.
Penyelesain BAB I,II,III
























Read more...
separador

Followers